LOADING

Type to search

News

Asal Usul Nama dan Kota Tangerang

suryachristian January 21, 2019
Share

Serpongku.com – Info Serpong – Asal Usul Nama dan Kota Tangerang – Nama Tangerang berasal dari kata “Tangeran”, kata “Tangeran” dalam bahasa Sunda memiliki makna “tanda”. Tangeran di sini berupa tugu yang didirikan sebagai tanda batas wilayah kekuasaan Banten dan VOC, pada masa-masa itu.

sejarah tangerang

Tangeran tersebut bertempat dibagian barat Sungai Cisadane (Kampung Grendeng atau tepatnya di ujung jalan Otto Iskandar Dinata sekarang). Tugu itu dibangun oleh Pangeran Soegiri, salah satu putra Sultan Ageng Tirtayasa.

Pada tugu itu tertulis prasasti dalam huruf Arab gundul dengan logat Banten, yang isinya inilah :

Bismillah peget Ingkang Gusti
Diningsun juput parenah kala Sabtu
Ping Gasal Sapar Tahun Wau
Rengsena Perang nelek Nangeran
Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian
Sakebeh Angraksa Sitingsung Parahyang-Titi

Artinya terjemahan dalam bahasa Indonesia :
Dengan nama Allah tetap Maha Kuasa
Dari kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu
Tanggal 5 Sapar Tahun Wau
Sesudah perang kita memancangkan Tugu
Untuk mempertahankan batas Timur Cipamugas
(Cisadane) dan Barat yaitu Cidurian
Semua menjaga tanah kaum Parahyang

Kemudian kata “Tangeran” diubah menjadi “Tangerang” diakibatkan pengaruh perkataan dan logat dari tentara kompeni yang berasal dari Makasar. Orang-orang Makasar tidak mengenal huruf mati, kesudahannya kata “Tangeran” kembali menjadi “Tangerang”.

Sejarah Tangerang

sejarah tangerang

Berdasarkan keterangan dari kajian kitab “Sejarah Kabupaten Tangerang” yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Tangerang berkolaborasi dengan LPPM Unis Tangerang, wilayah Tangerang semenjak dulu sudah mengenal pemerintahan. Cerita pemerintahan ini sudah berkembang di masyarakat.

Cerita itu bermula dari tiga maulana yang diusung oleh penguasa Banten pada masa-masa itu. Tiga Maulana lantas mendirikan kota Tangerang itu ialah Yudhanegara, Wangsakara dan Santika. Pangkat ketiga Maulana tersebut ialah Aria.

Pemerintahan kemaulanaan yang menjadi pusat perlawanan terhadap penjajah di Tigaraksa (artinya pemimpin),membangun benteng, disepanjang tepi Sungai Cisadane. Kata “Benteng” ini lantas menjadi sebutan kota Tangerang. Dalam peperangan melawan VOC, maulana ini beruntun gugur satu persatu. Dengan gugurnya semua maulana, maka berakhirlah pemerintahan kemaulanaan di Tangerang. Masyarakat mengangap pemerintahan kemaulanaan ini sebagai cikal akan pemerintahan di Tangerang.

Untuk mengungkapkan asal-usul tangerang sebagai kota “Benteng”, diperlukan daftar yang menyangkut perjuangan. Berdasarkan keterangan dari sari artikel F. de Haan yang diambil dari dokumentasi VOC,resolusi tanggal 1 Juni 1660 dituturkan bahwa Sultan Banten telah menciptakan negeri besar yang terletak di sebelah barat sungai Untung Jawa, dan untuk memenuhi negeri baru itu Sultan Banten telah mengalihkan 5 hingga 6.000 penduduk.

Kemudian dalam Dag Register tertanggal 20 Desember 1668 dikabarkan bahwa Sultan Banten sudah mengusung “Radin Sina Patij dan Keaij Daman” sebagai penguasa di wilayah baru tersebut. Karena dicurigai bakal merebut kerajaan, Raden Sena Pati dan Kyai Demang dipecat Sultan. Sebagai gantinya diusung Pangeran Dipati lainnya. Atas pemecatan itu Ki Demang sakit hati. Kemudian perbuatan selanjutnya ia mengadu kambing antara Banten dan VOC. Tetapi ia terbunuh di Kademangan.

Dalam dokumentasi VOC selanjutnya, yakni dalam Dag Register tertanggal 4 Maret 1980 menyatakan bahwa penguasa Tangerang pada masa-masa itu ialah ”Keaij Dipattij Soera Dielaga”. Kyai Soeradilaga dan putranya Subraja mohon perlindungan kompeni dengan diikuti 143 pengiring dan tentaranya (keterangan ini ada dalam Dag Register tanggal 2 Juli 1982). Ia dan pengiringnya ketika itu diberi lokasi di sebelah timur sungai, berbatasan dengan pagar kompeni.

Ketika bertempur dengan Banten, ia beserta berpengalaman perangnya sukses memukul mundur pasukan Banten. Atas jasa keunggulannya tersebut kemudian ia diberi gelar kebesaran Raden Aria Suryamanggala, sementara Pangerang Subraja diberi gelar Kyai Dipati Soetadilaga. Selanjutnya Raden Aria Soetadilaga diusung menjadi Bupati Tangerang I dengan wilayah mencakup antara sungai Angke dan Cisadane. Gelar yang digunakannya ialah Aria Soetidilaga I. Kemudian dengan perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 17 April 1684, Tangerang menjadi dominasi kompeni, Banten tidak memiliki hak guna campur tangan dalam menata tata pemerintahan di Tangerang. Salah satu pasal dari perjanjian itu berbunyi:

”Dan harus diketahui dengan pasti sejauh mana batas-batas daerah kekuasaan yang sejak masa lalu telah dimaklumi maka akan tetap ditentukan yaitu daerah yang dibatasi oleh sungai Untung Jawa atau Tangerang dari pantai Laut Jawa hingga pegunungan-pegunungan sejauh aliran sungai tersebut dengan kelokan-kelokannya dan kemudian menurut garis lurus dari daerah Selatan hingga utara sampai Laut Selatan. Bahwa semua tanah disepanjang Untung Jawa atau Tangerang akan menjadi milik atau ditempati kompeni”

Dengan adanya perjanjian tersebut wilayah kekuasaan bupati meningkat luas hingga sebelah barat sungai Tangerang. Untuk memantau Tangerang maka di anggap perlu meningkatkan pos-pos penjagaan di sepanjang perbatasan sungai Tangerang, sebab orang-orang Banten selalu melakukan penyerangan secara tiba-tiba. Berdasarkan keterangan dari peta yang diciptakan tahun 1962, pos yang sangat tua terletak di muara sungai Mookervaart, tepatnya disebelah bagian utara Kampung Baru. Namun  ketika didirikan pos yang baru, bergeserlah letaknya ke sebelah Selatan atau tepatnya di muara sungai Tangerang.

Menurut dokumentasi Gewone Resolutie Van hat Casteel Batavia tanggal 3 April 1705 terdapat rencana merobohkan bangunan-bangunan dalam pos karena hanya berdinding bambu. Kemudian bangunannya diusulkan diganti dengan tembok. Gubernur Jenderal Zwaardeczon sangat mengamini usulan tersbut, bahkan diinstruksikan untuk menciptakan pagar tembok mengelilingi bangunan-bangunan dalam pos penjagaan. Hal ini dimaksudkan supaya orang Banten tidak dapat melakukan penyerangan. Benteng baru yang bakal dibangun guna ditempati tersebut direncanakan punya ketebalan dinding 20 kaki atau lebih. Disana bakal ditempatkan 30 orang Eropa dibawah pimpinan seorang Vandrig(Peltu) dan 28 orang Makasar yang akan bermukim diluar benteng. Bahan dasar benteng ialah batu bata yang didapatkan dari Bupati Tangerang Aria Soetadilaga I.

Setelah benteng dibangun personilnya menjadi 60 orang Eropa dan 30 orang hitam. Yang disebutkan orang hitam ialah orang-orang Makasar yang direkrut sebagai serdadu kompeni. Benteng ini lantas menjadi basis kompeni dalam menghadapi penentangan dari Banten. Kemudian pada tahun 1801, ditetapkan untuk membetulkan dan memperkuat pos atau garnisun itu, dengan letak bangunan baru 60 roeden agak ke tenggara, tepatnya terletak disebelah bagian timur Jalan Besar pal 17. Orang-orang asli pada waktu tersebut lebih mengenal bangunan ini dengan sebutan ”Benteng”. Sejak itu, Tangerang familiar dengan sebutan Benteng. Benteng ini semenjak tahun 1812 telah tidak terawat lagi, bahkan menurut keterangan dari ”Superintendant of Publik Building and Work” tanggal 6 Maret 1816 menyatakan: ”…Benteng dan barak di Tangerang sekarang tidak terurus, tak seorangpun mau melihatnya lagi. Pintu dan jendela banyak yang rusak bahkan diambil orang untuk kepentingannya”

Kabupaten Tangerang semenjak ratusan tahun lalu telah menjadi wilayah perlintasan perniagaan, perhubungan sosial dan interaksi antardaerah lain. Hal ini, diakibatkan letak wilayah ini yang berada di dua poros pusat perdagangan Jakarta – Banten.

Berdasarkan daftar sejarah, wilayah ini penuh dengan konflik kepentingan perdagangan dan dominasi wilayah antara Kesultanan Banten dengan Penjajah Belanda.

Secara tutur-tinular, masa pemerintahan pertama secara sistematis yang dapat diungkapkan di wilayah dataran ini, ialah saat Kesultanan Banten yang terus tersudut agresi penjajah Belanda kemudian mengutus tiga maulananya yang berpangkat aria untuk menciptakan perkampungan pertahanan di Tangerang.

Ketiga maulana itu ialah Maulana Yudanegara, Wangsakerta dan Santika. Konon, basis pertahanan mereka berada di garis pertahanan ideal yang sekarang disebut area Tigaraksa dan menyusun suatu pemerintahan. Sebab itu, di legenda rakyat cikal-bakal Kabupaten Tangerang ialah Tigaraksasa [sebutan Tigaraksasa, diambil dari sebutan kebesaran kepada tiga maulana sebagai tiga pimpinan = tiangtiga = Tigaraksa].

Pemerintahan ketiga maulana ini, pada akhirnya bisa ditumbangkan dan semua wilayah pemerintahannya dikuasai Belanda, berdasar daftar sejarah terjadi tahun 1684. Berdasar daftar pada masa ini pun, bermunculan sebutan kota Tangerang. Sebutan Tangerang lahir saat Pangeran Soegri, salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten membangun tugu prasasti di bagian barat Sungai Cisadane [diyakini di desa Gerendeng, kini].

Tugu tersebut disebut masyarakat waktu tersebut dengan Tangerang [bahasa Sunda=tanda] memuat prasasti dalam bahasa Arab Gundul Jawa Kuno, “Bismillah peget Ingkang Gusti/Diningsun juput parenah kala Sabtu/Ping Gangsal Sapar Tahun Wau/ Rengsenaperang netek Nangeran/Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian/Sakabeh Angraksa Sitingsun Parahyang”

Arti prasasti tersebut adalah: “Dengan nama Allah tetap Yang Maha Kuasa/Dari kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu/Tanggal 5 Sapar Tahun Wau/Sesudah perang kita memancangkan tugu/Untuk mempertahankan batas timur Cipamugas [Cisadane] dan barat Cidurian/ Semua menjaga tanah kaum Parahyang”

Diperkirakan sebutan Tangeran, kemudian lama-kelamaan berubah sebutan menjadi Tangerang.

Desakan pasukan Belanda semakin menjadi-jadi di Banten sampai-sampai memaksa dibuatnya perjanjian antar kedua belah pihak pada 17 April 1684 yang menjadikan wilayah Tangerang seluruhnya masuk dominasi Penjajah Belanda. Sebagai wujud kekuasaannya, Belanda pun menyusun pemerintahan kabupaten yang lepas dari Banten dengan dibawah pimpinan seorang bupati.

Para bupati yang sempat memimpin Kabupaten Tangerang periode tahun 1682 – 1809 ialah Kyai Aria Soetadilaga I-VII. Setelah keturunan Aria Soetadilaga dinilai tak dapat lagi memerintah kabupaten Tangerang dengan baik,kesudahannya penjajah Belanda menghapus pemerintahan di wilayah ini dan mengalihkan pusat pemerintahan ke Jakarta.

Lalu, diciptakan kebijakan sebagian tanah di wilayah itu dipasarkan kepada orang-orang kaya di Jakarta, sebagian besarnya ialah orang-orang Cina kaya sampai-sampai lahir masa tuan tanah di Tangerang.

Pada 8 Maret 1942, Pemerintahan Penjajah Belanda selesai di gantikan Pemerintahan Penjajah Jepang. Namun terjadi serangan sekutu yang mendesak Jepang di sekian banyak tempat, sebab itu Pemerintahan Militer Jepang mulai memikirkan pengerahan pemuda-pemuda Indonesia guna menolong usaha pertahanan mereka semenjak kekalahan armadanya di sekitar Mid-way dan Kepulauan Solomon.

Kemudian pada tanggal 29 April 1943 dibentuklah sejumlah organisasi militer, diantaranya yang terpenting merupakan Keibodan [barisan bantu polisi] dan Seinendan [barisan pemuda]. Disusul pemindahan status Pemerintahan Jakarta Ken ke Tangerang dipimpin oleh Kentyo M Atik Soeardi dengan pangkat Tihoo Nito Gyoosieken atas perintah Gubernur Djawa Madoera. Adapun Tangerang pada waktu tersebut masih berstatus Gun atau kewedanan berstatus ken (kabupaten.

Berdasar Kan Po No. 34/2604 yang mencakup pemindahan Jakarta Ken Yaskusyo ke Tangerang, maka Panitia Hari Jadi Kabupaten Tangerang memutuskan terbentuknya pemerintahan di Kabupaten Tangerang. Sebab itu, kelahiran pemerintahan wilayah ini ialah pada tanggal 27 Desember 1943. Selanjutnya penetapan ini dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Tangerang Nomor 18 Tahun 1984 tertanggal 25 Oktober 1984.

Dalam waktu proklamasi, sudah terjadi beberpa peristiwa besar yang melibatkan tentara dan rakyat Kabupaten Tangerang dengan pasukan Jepang dan Belanda, yakni Pertempuran Lengkong dan Pertempuran Serpong.

Pertumbuhan perekonomian Kabupaten Tangerang sebagai wilayah lintasan dan berdampingan dengan Ibukota Negara Jakarta melesat pesat. Apalagi sesudah diterbitkannya Inpres No.13 Tahun 1976 mengenai pengembangan Jabotabek, di mana kabupaten Tangerang menjadi wilayah penyanggah DKI Jakarta.

Tanggal 28 Pebruari 1993 keluar UU No. 2 Tahun 1993 mengenai Pembentukan Kota Tangerang. Berdasarkan UU ini distrik Kota Administratif Tangerang disusun menjadi wilayah otonomi Kota Tangerang, yang lepas dari Kabupaten Tangerang. Berkaitan tersebut terbit pula Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1995 mengenai pemindahan Ibukota Kabupaten Dati II Tangerang dari Wilayah Kotamadya Dati II Tangerang ke Kecamatan Tigaraksa.

Akhirnya, pada mula tahun 2000, pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang juga di pindahkan Bupati H. Agus Djunara ke Ibukota Tigaraksa. Pemindahan ini dinilai strategis dalam upaya memajukan wilayah karena bertepatan dengan penerapan otonomi daerah, diberlakukannya perimbangan finansial pusat dan daerah, adanya revisi pajak dan retribusi daerah, serta terbentuknya Propinsi Banten.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *